Minggu, 16 Januari 2011

Romo Yohanes Samiran Menulis Jadi Katolik dari ...(millis APIK)

Hallo Ilsye, 
sudah sekian banyak sharing tentang convert agama kok tidak ada reaksi apa yang diharap atau Ilsye cari. 
Saya sendiri mempunyai sejarah perjalanan iman atau agama mirip dg Bp Joe Marselo. 
Saya lahir dan besar di Lampung 55 tahun lalu. Sampai sekitar tahun 60-an, kami terdaftar sebagai beragama Islam, dan memang juga memberikan fasilitas ibadat islam yang baik, ada langgar (surau) di pekarangan rumah kami. Jaman itu namanya memang langgar, bukan mushola permanen seperti sekarang; tetapi bangunan panggung dari bahan setempat: bambu dan kayu. Langgar itu dipakai untuk sholat, untuk sekolah pemberantasan buta huruf (PBH) juga. 
Tahun 1961 kami pindah mendekati saudara seasal jawa. 
Tahun 1965 dengan peristiwa G-30S / PKI pemerintah mewajibkan amat ketat penduduk memilih salah satu agama yang diakui negara. Aneh setelah pemerintah mewajibkan, justru kami berpikir beda. Maka tahun 1967-an kami mulai diskusi soal agama yang kami akui, yakni Islam. Salah satu soal yang mencolok waktu diskusi keluarga itu adalah ungkapan Bapak dan ibu bahwa dalam islam itu kita berdoa tetapi tidak tahu doa itu artinya apa, juga tidak bisa mengembangkan pengetahuan iman dan doa tanpa tuntunan atau dipimpin oleh guru agama. Padahal kami yang laki-laki (4 org dari 6 org dlm keluarga kami) tekun sholat setiap hari, terutama Maghrib dan Ishak; serta Jumatan setiap jumat siang. 
Tahun 1968 kami memutuskan untuk mencoba menjajagi (survey) agama-agama non islam. Dan akhirnya kami sepakat memilih belajar katolik. Maka tahun itu kami resmi menyatakan diri ingin belajar agama katolik. Mulailah masa katekumenat kami. Di samping pelajaran katekumen, kami juga diberi buku-buku kekatolikan, seperti katekismus singkat (Piwulang Cekak Agama Katulik) dan buku-buku lain, seperti kisah para kudus, Babad Suci, dll. Tentu saja di samping itu juga buku doa populer waktu itu, yakni "Padupan Kencana". Semua buku dan doa dalam bahasa Jawa; juga liturgi ekaristi dll semua dalam bahasa Jawa. 

Kami jalani masa katekumenat kami dengan baik, tekun dan setia. Tanpa disadari masa katekumen kami sudah 2 tahun dan kami sebenarnya dari tahun pertama diuji lulus semua, kecuali ibu saya yang memang tidak banyak bisa menjelaskan pengetahuan iman itu, kecuali keyakinan penuh saja dan ketekunan dalam doa. Yang ini saya amat yakin, bahwa pengetahuan tidak sama dengan kedalaman atau ketulusan iman. Ibu saya orang sederhana, lulusan PBH, maka tidak pandai merumuskan pengetahuan imannya, tetapi memiliki ketekunan doa luar biasa; sampai akhir hidupnya tidak pernah lupa bangun tidur pagi selalu doa rosario.

Kami baru dibaptis 19 Des 1970, kecuali ayah saya dibaptis Agustus karena sakit keras dan memang tidak lama kemudian beliau meninggal. Jadi kami katekumen (pelajaran dan masa persiapan menjadi katolik) lebih dari 2 tahun. Tetapi herannya kami tidak merasa rugi dan dirugikan. Saya sendiri walau masih katekumen sudah rajin misdinar dan bahkan melatih teman-teman sebaya misdinar. Tapi karena saya belum baptis, ya biasa saja saya tidak terima komuni. Demikian juga walau rumah kami 5 km dari Gereja kami, tetapi saat Kring kami mendapat giliran tugas, kami terutama anak-anak membersihkan gereja (menyapu dan mengepel) dan menghias altar. 
Tgl 19 Des 1970 itulah kami sekeluarga menerima Skaramen Baptis katolik. Dan 7 bulan kemudian, 17 Juli 1971 kami menerima Sakramen Krisma.

Jadi kami convert dengan kesadaran dan pertimbangan penuh dan matang. 

salam dan doa, 

Yohanes Samiran SCJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar