Selasa, 01 Februari 2011

Dr. Zakaria Boutros - Penginjil Paling Ditakuti

MOST WANTED HIGH REWARD KAFIR

KAFIR PALING DICARI DI SELURUH DUNIA
 
 
Al Qaeda Mengumumkan Pendeta Koptik Zakaria Botros Sebagai “Kafir Yang Paling 
Dicari Di Seluruh Dunia
 
Al-Qaeda juga menawarkan upah USD $60 juta bagi kepala Botros. Silakan pula 
baca Musuh Islam Nomer Satu. Al-Qaeda mengarahkan serangan pada penginjil Arab 
yang beroperasi di AS karena dia telah menyebarkan Injil kepada Muslim.
 
Oleh Joel C. Rosenberg untuk Flashtraffic, 9 September 2008.
 
Anda mungkin belum pernah mendengar Pendeta Zakaria Botros, tapi penting 
untuk mengetahui tokoh ini. Dia adalah penginjil Arab Amerika yang paling 
efektif, terkenal, konstroversial di dunia Muslim. Dia bagaikan Rush Limbaugh 
bagi para Revivalis. Khotbahnya lucu, cerdas, meyakinkan, dan provokatif. 
Musuh-musuhnya tidak hanya ingin membungkamnya, tapi membunuhnya sekalian.
 
Minggu lalu aku dapat kehormatan mewawancarai Botros melalui telpon dari 
tempat tinggalnya yang tersembunyi di AS. Dia mengatakan padaku bahwa dia baru 
saja tahu website Al Qaeda memasang fotonya dan menyebutnya sebagai Kafir yang 
“paling dicari” di seluruh dunia. Mereka juga sudah memasang harga bayaran bagi 
kepalanya. Christian Broadcasting Network melaporkan bahwa harga kepalanya 
adalah $60 juta. Botros tidak tahu berapa tepatnya. Tapi bandingkan saja dengan 
kepala Osama Bin Laden yang “hanya” dihargai Pemerintah AS $25 juta.
 
Kenapa yah para Muslim sangat jengkel dengan pendeta tua Koptik Kristen dari 
Mesir yang sudah berusia 70 tahunan ini? Jawabnya adalah karena Botros memerangi 
Islam melalui udara, dan dia menang.
 
Botros mengabarkan Injil melalui teknologi satelit canggih yang mampu 
menembus benteng-benteng para Pemerintah Islam untuk menahan penginjilan di 
tanah Islam. Dengan begitu, Botros secara langsung menantang Muhammad sebagai 
Nabi, dan Al-Quran sebagai firman Allah SWT. Secara sistematis dia membahas 
kehidupan Muhammad, kisah demi kisah, untuk menunjukkan sifatnya yang buruk dan 
penuh dosa. Dia membahas Al-Quran dengan seksama, ayat demi ayat, sambil 
menunjukkan isinya yang bertentangan satu sama lain dan tiadanya konsistensi 
pesan. Tidak hanya kesalahan Islam saja yang dia jabarkan, tapi juga penyampaian 
pesan pada Muslim mengapa Yesus mengasihi mereka dan bersedia menerima dan 
mengampuni mereka.
 
Jika hal ini dilakukan Botros secara diam-diam, atau jika siaran TV 
satelitnya tiada yang menonton, maka tentunya tidak akan ada keributan yang 
ditimbulkannya. Tapi program TV-nya yang berlangsung selama 90 menit – dengan 
pesan campuran antara khotbah, ajaran, dan jawaban dari para penelpon (yang 
kebanyakan jengkel) dari seluruh dunia – merupakan program TV “wajib tonton” di 
seluruh dunia Muslim. Program TV-nya ditayangkan empat kali seminggu dalam 
bahasa Arab, yang merupakan bahasa asli Botros, di jaringan TV satelit bernama 
Al Hayat (TV Hidup). Siaran TV ini bisa dilihat di seluruh negara-negara di 
Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, dan juga seluruh Amerika Utara, Eropa, 
Australia, dan New Zealand. Tidak hanya bisa ditonton di mana saja, tapi juga 
oleh sekitar 50 juta Muslim setiap hari.
 
Selain itu, website Botros dalam berbagai bahasa juga didatangi jutaan 
peminat. Di website ini, para Muslim bisa membaca khotbahnya dan mempelajari 
artikel-artikel jawaban atas FAQ (Frequently Asked Question = 
Pertanyaan-pertanyaan Yang Paling Banyak Diajukan). Pengunjung pun juga bisa 
masuk ruang chat bernama “Pal Chat” di mana mereka tidak hanya boleh tapi juga 
dianjurkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling susah pada para 
penjawab di website itu yang kebanyakan adalah para murtadin yang membelot ke 
Kristen dan tahu betul apa yang biasanya dipikirkan umat Muslim.
 
Akibatnya, Botros – yang sudah mengudara sejak tahun 2003 – telah jadi nama 
terkenal sehari-hari di dunia Muslim. Koran Arab menyebutkan sebagai “Musuh 
Masyarakat Islam #1″. Jutaan Muslim membencinya, tapi tetap menonton dan 
mendengarkannya. Mereka memproses informasi dari Botros dan membicarakan hal itu 
dengan teman-teman dan keluarganya. Ketika Botros menantang Imam-imam radikal 
Muslim untuk menjawab tuduhan-tuduhannya terhadap Islam dan Al-Quran, jutaan 
penonton menunggu bagaimana para Imam akan menjawabnya. Tapi ternyata jawaban 
jarang muncul, karena mereka lebih memilih menyerangnya daripada menjawabnya. 
Tapi semakin banyak Muslim radikal menyerangnya, Botros justru jadi semakin 
tenar. Karena semakin tenar, maka semakin banyak pula Muslim yang menontonnya. 
Semakin banyak Muslim mengamati, semakin banyak pula Muslim yang akhirnya 
berkesimpulan bahwa Botros ternyata benar dan mereka pun lalu murtad dan beralih 
agama ke Kristen. Botros memperkirakan setidaknya 1.000 Muslim per bulan berdoa 
untuk menerima Kristus lewat telepon genggamnya. Sebagian Muslim berdoa menerima 
Kristus di siaran TV bersama Botros. Ini tentunya hanya pucuk gunung es saja, 
karena dari sekian banyak penelpon, memang hanya sedikit yang akhirnya bisa 
masuk percakapan per telpon. Juga karena tidak cukup banyak penjawab terlatih 
yang bisa menerima telpon dari para penonton.
 
Botros yakin kebanyakan Muslim bukanlah Muslim radikal, tapi dia menjelaskan 
bahwa Muslim tersesat secara rohani, dan dia ingin sekali menolong mereka 
mendapatkan jalan kembali ke Tuhan yang menciptakan dan mencintai mereka.
 
“Aku percaya semua ini hasil kerja Tuhan,” kata Botros padaku. “Dialah yang 
membimbingku. Dia menjelaskan padaku apa yang harus kukatakan. Dia menunjukkan 
pada apa yang harus kutulis di websiteku. Dia menunjukkan lebih banyak lagi 
bagaimana cara menggunakan teknologi untuk mencapai orang-orang dengan pesan 
keselamatanNya.”
 
Sejumlah faktor yang mempengaruhi fenomena Botros ini :
 
PERTAMA, bentuk media baru - khususnya TV satelit dan Internet (bentuk-bentuk 
utama TV al Hayat) - memungkinkan orang bertanya tentang Islam, tanpa takut 
dianiaya atau dibunuh. Ini mengakibatkan untuk pertama kalinya penonton - bahkan 
dari Saudi, dimana Injil-Injil disita dan dibakar - menelpon show itu untuk 
berdebat dengan Botros dan kolega-koleganya dan bahkan menyatakan kemurtadan 
mereka [dan masuk Kristen].
 
KEDUA, siaran Botros dalam bahasa Arab - bahasa sekitar 200 juta orang, 
kebanyakan Muslim. Kemahiran Botros berbahasa Arab Klasik tidak hanay 
memungkinkannya mencapai audiens yang lebih luas, dan memungkinkannya untuk 
membahas lebih dalam literatur Arab yang berjilid-jilid sehingga melaporkan 
kepada Muslim-muslim KTP tentang kepincangan-kepincangan dalam Islam.
 
KETIGA, analisanya tidak dapat dibantah. Contoh pembahasannya tentang "Apakah 
jihad sebuah kewajiban bagi semua Muslim ?"; "Apakah wanita lebih rendah dari 
pria dalam Islam?"; "Benarkah Mohammed mengatakan bahwa monyet-monyet wanita 
harus dirajam dengan batu ?" "Apakah meminum air kencing nabi-nabi memang 
diwajibkan shariah ?". Botros menjawab setiap pertanyaan dengan kutipan dari 
sumber-sumber Islam yang jelas, dari teks otoritatif Quran, hadis dan 
teologi-teologi Muslim ternama, dari dulu sampai sekarang.
 
Ia juga mengundang para ulama untuk menunjukkan kesalahan metodologinya 
(kalau ada). Tapi ia menuntut bahwa jawaban ulama harus didasarkan pada 
"al-dalil we al-burhan," - "dalil dan bukti."
 
DAN ternyata, tanggapan ulama sering dalam bentuk BUNGKAM KESUMAT, yang 
membuat siaran-siaran Botros semakin menggiurkan bagi penonton Muslim. Ulama 
yang sering merujuk kepada kesimpulan-kesimpulan Botros mau tidak mau MALAH 
menyatakan persetujuan mereka dengannya - sehingga sering menunjukkan 
wajah-wajah merah malu pada siaran TV langsung ini.
 
Botros menghabiskan tiga tahun untuk menarik perhatian dunia pada sebuah 
hadis otentik namun sangat memalukan bahwa : wanita Muslim harus MENYUSUI lelaki 
tidak semuhrim (bahkan lelaki tidak dikenal) agar dapat berada dalam satu 
ruangan sendiri dengan si lelaki tersebut.
 
MESIR : fatwa MENYUSUI lelaki dewasa !!
 
Seorang pakar hadis, Abd al-Muhdi, dihadapkan pada hadis ini pada sebuah 
siaran TV live yang dimoderasi oleh pembawa acara Hala Sirhan. Al-Muhdi 
menegaskan bahwa meyusui lelaki dewasa, menurut shariah, adalah sebuah CARA SAH 
untuk memudahkan wanita-wanita, yang tadinya "terlarang" bagi lelaki yang tidak 
semuhrim, mengadakan hubungan dengan lelaki lain - logikanya adalah bahwa dengan 
"menyusui" lelaki itu, ia menjadi seperti "putera" sang wanita dan oleh karena 
itu tidak lagi bisa memiliki nafsu birahi terhadap wanita tersebut.
 
Yang paling lucu, Ezzat Atiyya, kepala Departemen Hadis di Universitas 
al-Azhar - institusi Islam Sunni yang paling otoritatif - malah mengeluarkan 
fatwa untuk mengabsahkan "Rida' al-Kibir" (istilah shariah bagi "menyusui orang 
dewasa"), yang sampai mengakibatkan kemarahan besar dalam dunia Islam sampai 
fatwa itu harus dicabut. (Tapi hadis-nya masih eksis!)
 
Botros memainkan peranan penting dalam memfokus pada masalah memalukan ini 
dan memaksa ulama untuk memberi tanggapan. Seorang tamu lain pada show Hala 
Sirhan, Abd al-Fatah, malah semakin mempermalukan para ulama: "Saya tahu kalian 
semua menonton siaran pendeta itu dan tidak seorangpun dari kalian [menunjuk 
pada Abd al-Muhdi] mampu menanggapinya, karena ia selalu mengutip sumber-sumber 
sahih !"
 
Karena impotensi mereka menjagal Botros, satu-satunya strategi yang tersisa 
bagi ulama adalah menuntut kematiannya (dengan hadiah US$5 juta bagi kepalanya) 
atau tidak mengacuhkannya. Setiap kali namanya muncul, mereka mengutuknya 
sebagai siapa lagi kalau bukan antek-antek Yahudi. Taktik ini mungkin memuaskan 
beberapa Muslim TAPI tetap saja masyarakat umum terus menuntut agar ulama 
memberikan jawaban tegas dan konkrit kepada sang pendeta.
 
Contoh paling dramatis adalah pada siaran TV internasional, Iqra.
 
Sang pembawa acara, Basma, Muslimah konservatif berhijab, menanyakan kepada 
dua ulama, termasuk Sheikh Gamal Qutb, yang pernah menjabat sebagai mufti agung 
universitas al-Azhar, untuk menjelaskan legalitas ayat Quran (4:24) yang 
mengijinkan lelaki untuk menggagahi wanita-wanita tahanan perang. Ia 
berulang-ulang menanyakan: "Betulkah menurut shariah, sex dengan budak masih 
berlaku ?"
 
Kedua ulama tidak memberikan jawaban jelas, mereka cuma bisa OOT (Out Of 
Topic) dan mengutuk Yahudi. Basma menegaskan kembali : pemuda-pemuda Muslim 
bingung dan PERLU JAWABAN seketika ini juga, karena "ada sebuah saluran TV 
khusus dan seorang lelaki yang mendiskusikan masalah ini selama 20 tahun & 
belum juga mendapatkan tanggapan dari kalian."
 
Sheikh Qutb yang wajahnya memerah berteriak, "Percuma menanggapi orang-orang 
hina macam itu !" dan angkat kaki dengan marah dari set film. Ia kemudian 
kembali lagi, tapi menolak untuk mengakui bahwa Islam memang mengijinkan 
budak-budak sex dan malah menghabiskan waktu mengumpat dan mengutuk Botros. 
Ketika Basma mengatakan "99% Muslim, termasuk saya, tidak mengerti masalah 
pergundikan dalam Islam dan sulit menerimanya." Sang sheikh menjawab, "Kalian 
tidak perlu mengerti." Dan bagi Muslim-muslim yang menonton dan dipengaruhi 
Botros, ia menghardik, "Itu urusan kalian ! Kalau putera saya sakit dan memilih 
untuk mengunjungi seorang mekanik dan bukan seorang dokter - maka itu urusan dia 
!"
 
Namun sukses utama Botros adalah tujuannya untuk menyelamatkan jiwa Muslim. 
Ia selalu memulai dan mengakhiri programnya dengan menyatakan bahwa ia mencintai 
semua Muslim dan ingin menjauhi mereka dari kepalsuan dan membawa mereka menuju 
kebenaran.
 
Dengan demikian Father Zakaria Botros memerangi api dengan api.
 
Father Brotos
 
 
Walau ia tidak dikenal secara luas di Barat (ataupun Indonesia), pendeta 
Koptik, Dr Zakaria Botros/Boutros — yg dicap sbg “MUSUH UTAMA ISLAM #1” 
oleh surat kabar Arab, al-Insan al-Jadid — terus mencuatkan kontroversi 
dlm dunia Islam. Bersama dgn missionaris yg kebanyakan Muslim murtadin — ia 
tampil secara teratur dlm saluran Arab al-Hayat (i.e., “Life 
TV”) yg disiarkan dari AS. Bebas dari sensor negara2 Islam ataupun serangan2 
fisik Muslim, disini ia menangani topik2 teologi yg kontroversial. Siaran2 
Botros ttg tradisi dan hukum Islam ini memang sering mempermalukan pemimpin2 
Islam diseluruh Timur Tengah.
Pendeta yg sering mengenakan salib besar ini, duduk dgn Quran dan Injil 
didekatnya dan tanpa tedeng alilng2 ia menyerang ajaran Islam sampai ke 
akar2nya. Ia terkenal karena mengumumkan <span>‘10 
Tuntutan’</span>nya terhdp dunia Islam, antara lain : cabut ayat2 Quran yg 
memusuhi dan menganjurkan pembunuhan terhdp kaum Yahudi, Kristen dan memaksa 
Yahudi dan Kristen utk memeluk Islam. ‘Kalau kalian tidak sanggup mencabut ayat2 
Quran itu,’ katanya, ‘jangan anggap bahwa kami akan cabut dari agama 
kami.’

Minggu, 16 Januari 2011

Romo Yohanes Samiran Menulis Jadi Katolik dari ...(millis APIK)

Hallo Ilsye, 
sudah sekian banyak sharing tentang convert agama kok tidak ada reaksi apa yang diharap atau Ilsye cari. 
Saya sendiri mempunyai sejarah perjalanan iman atau agama mirip dg Bp Joe Marselo. 
Saya lahir dan besar di Lampung 55 tahun lalu. Sampai sekitar tahun 60-an, kami terdaftar sebagai beragama Islam, dan memang juga memberikan fasilitas ibadat islam yang baik, ada langgar (surau) di pekarangan rumah kami. Jaman itu namanya memang langgar, bukan mushola permanen seperti sekarang; tetapi bangunan panggung dari bahan setempat: bambu dan kayu. Langgar itu dipakai untuk sholat, untuk sekolah pemberantasan buta huruf (PBH) juga. 
Tahun 1961 kami pindah mendekati saudara seasal jawa. 
Tahun 1965 dengan peristiwa G-30S / PKI pemerintah mewajibkan amat ketat penduduk memilih salah satu agama yang diakui negara. Aneh setelah pemerintah mewajibkan, justru kami berpikir beda. Maka tahun 1967-an kami mulai diskusi soal agama yang kami akui, yakni Islam. Salah satu soal yang mencolok waktu diskusi keluarga itu adalah ungkapan Bapak dan ibu bahwa dalam islam itu kita berdoa tetapi tidak tahu doa itu artinya apa, juga tidak bisa mengembangkan pengetahuan iman dan doa tanpa tuntunan atau dipimpin oleh guru agama. Padahal kami yang laki-laki (4 org dari 6 org dlm keluarga kami) tekun sholat setiap hari, terutama Maghrib dan Ishak; serta Jumatan setiap jumat siang. 
Tahun 1968 kami memutuskan untuk mencoba menjajagi (survey) agama-agama non islam. Dan akhirnya kami sepakat memilih belajar katolik. Maka tahun itu kami resmi menyatakan diri ingin belajar agama katolik. Mulailah masa katekumenat kami. Di samping pelajaran katekumen, kami juga diberi buku-buku kekatolikan, seperti katekismus singkat (Piwulang Cekak Agama Katulik) dan buku-buku lain, seperti kisah para kudus, Babad Suci, dll. Tentu saja di samping itu juga buku doa populer waktu itu, yakni "Padupan Kencana". Semua buku dan doa dalam bahasa Jawa; juga liturgi ekaristi dll semua dalam bahasa Jawa. 

Kami jalani masa katekumenat kami dengan baik, tekun dan setia. Tanpa disadari masa katekumen kami sudah 2 tahun dan kami sebenarnya dari tahun pertama diuji lulus semua, kecuali ibu saya yang memang tidak banyak bisa menjelaskan pengetahuan iman itu, kecuali keyakinan penuh saja dan ketekunan dalam doa. Yang ini saya amat yakin, bahwa pengetahuan tidak sama dengan kedalaman atau ketulusan iman. Ibu saya orang sederhana, lulusan PBH, maka tidak pandai merumuskan pengetahuan imannya, tetapi memiliki ketekunan doa luar biasa; sampai akhir hidupnya tidak pernah lupa bangun tidur pagi selalu doa rosario.

Kami baru dibaptis 19 Des 1970, kecuali ayah saya dibaptis Agustus karena sakit keras dan memang tidak lama kemudian beliau meninggal. Jadi kami katekumen (pelajaran dan masa persiapan menjadi katolik) lebih dari 2 tahun. Tetapi herannya kami tidak merasa rugi dan dirugikan. Saya sendiri walau masih katekumen sudah rajin misdinar dan bahkan melatih teman-teman sebaya misdinar. Tapi karena saya belum baptis, ya biasa saja saya tidak terima komuni. Demikian juga walau rumah kami 5 km dari Gereja kami, tetapi saat Kring kami mendapat giliran tugas, kami terutama anak-anak membersihkan gereja (menyapu dan mengepel) dan menghias altar. 
Tgl 19 Des 1970 itulah kami sekeluarga menerima Skaramen Baptis katolik. Dan 7 bulan kemudian, 17 Juli 1971 kami menerima Sakramen Krisma.

Jadi kami convert dengan kesadaran dan pertimbangan penuh dan matang. 

salam dan doa, 

Yohanes Samiran SCJ

Dari Kong Hu Cu menjadi Katolik- Sebuah Kesaksian

Mau ikut sedikit sharing. Ini bukan tentang saya, tapi alm. Ibu saya yang convert dr kepercayaan kon hu cu ke katolik.

Sewaktu masih remaja di jaman pjajahan jepang, ibu saya, paman n bibi saya (ber tiga) mereka merindukan punya satu agama. Mulailah mereka 'hunting'. Dari protestan, pantekosta, sampe katolik.

Mereka berkesimpulan, katolik adalah aganma yg paling cocok dgn mereka. Tapi ibu saya keburu ketemu dng alm atah saya yg bukan katolik. Krn nikah dng ayah saya, ibu saya urung masuk katolik. Ikut kepercayaan ayah saya yg kong hucu. Sedangkan paman n bibi saya tetap katolik sampai akhir hayat mereka.

Krn ayah saya cukup akyif di vihara (saya pernah diajak juga ke vihara), ibu saya jg aktif disitu n melupakan tentang katolik.

Sewaktu ibu saya mengandung alm kakak saya yg kedua, beliau bermimpi berdoa kepada Bunda Maria. Padahal setelah menikah, ibu saya tidak pnah doa secara katolik. Dlam mimpinya, Bunda Maria menghampiri ibu saya dan memegang kepala ibu saya. Ternyata saat melahorkan kakak saya, ibu mengalami kesulitan yg hampir merengut jiwanya. Maklum, saat itu, ibu saya melahirkan dibantu bidan, bukan dokter. Akhirnya ibu selamat. Ibu saya berkeyakinan Bunda Maria turut menolong ibu. Ibu minta ijin belajar katolik, tapi tak diijinkan ayah saya.

Sampai ayah saya berusia 57 tahun saat beliau mengalami strook pertama. Beliau didoakan oleh suster SND yang biaranya dekat rumah kami. Ayah juga kaul, jika ayah sembuh maka beliau akan jadi katolik. Ternyata ayah sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat apapun. Memenuhi janji, ayah minta belajar katolik di susteran SND. Ibu juga minta belajar. Jadilah mereka berdua menjaddi katakumen. Mendekati hari h mereka dibaptis, ayah mendadak berubah pikiran. Beliau tidak mau dibaptis n mengundurkan diri.

Kali ini ibu saya tidak mau mengikuti ayah saya. Ibu tetap minta dibabtis. Beliau merasa bahwa katolik lah panggilan jiwanya. beliau merasa banyak tanda yg menunjukkan beliau dipanggil. Dari pilihannya saat mencari2 agama, mimpinya Bunda Maria memberkatinya, terakhir kesempatan menjadi katakumen. Beliau dibaptis pada usia 52 thn.

Setelah dibaptis, ibu saya benar2 menikmati menjadi katolik. Beliau menjadi devosan setia kepada Binda Maria, aktif di lingkungan (sebelum sakit). Setiap hari beliau doa rosario sampai sekitar 1,5 thn sblm meninggal saat usia 79 thn.

Jadi dari 'panggilan pertama' sbg katolik sampai benar-benar dibaptis, ibu mbutuhkan waktu sekitar 26 tahun. Ada pertentangan antara panggilan jiwa dan kepatuhan istri terhadap suami. Syukur ibu saya dapat memenuhi panggilan jiwanya


Mmharja@gmail.com

Senin, 10 Januari 2011

Dari Ateis ...menjadi Baptis ... akhirnya Katolik

Kesaksian Saya: Dari Ateis Menjadi Baptis Dan Akhirnya Katolik
oleh Gary Hoge
Ketika saya masih kecil, ayah saya mengajarkan saya hal-hal yang mendasar tentang Allah dan dia membacakan saya dan saudara saya Alkitab versi anak-anak. Saya sangat suka mendengarnya, dan melihat gambar-gambarnya yang indah, tetapi entah mengapa, saya tidak pernah sungguh-sungguh membangun iman kepada Allah. Mungkin karena waktu itu saya pikir pergi ke gereja itu sangat membosankan, atau mungkin karena pengaruh ibu saya yang agnostik (tidak peduli akan Allah). Meskipun dia tidak pernah secara terbuka menghalangi saya untuk beriman pada Allah, akan tetapi dari dialah sejak kecil saya tahu bahwa ada orang-orang yang tidak percaya eksistensi Allah. Dan tampaknya bagi saya sewaktu umur saya makin bertambah, bahwa biasanya orang-orang yang pintar itu tidak percaya akan Allah.
Saya tidak ingat pada umur berapa akhirnya saya kehilangan sedikit iman yang saya miliki, tetapi sewaktu saya menginjak sekolah menengah umum, saya telah mengaku sebagai seorang ateis. Mungkin lebih tepat kalau saya dianggap agnostik, karena kalau anda mendesak saya mungkin saya harus mengakui bahwa saya tidak dapat yakin 100% bahwa Allah itu tidak ada, walau saya sungguh percaya memang tidak ada Allah. Saya merasa agama cuma buat orang-orang yang lemah yang tidak dapat menghadapi kenyataan. Sejauh pemikiran saya, manusia telah menciptakan Allah seperti gambaran dirinya berabad-abad lalu demi untuk menjelaskan alam semesta. Tetapi ilmu pengetahuan berkembang, dan kita mulai mengerti proses alam yang mengatur alam semesta. Seiring perjalanan waktu, kita mendapat kemajuan-kemajuan di bidang astronomi, fisika, dan biologi, dan tampak bagi saya bahwa makin berkurang keperluan menggunakan Allah untuk menjelaskan berbagai hal-hal. Saya dapat melihat saat dimana kita akhirnya mengerti sepenuhnya mekanika dunia materi ini sehingga Allah sama sekali tidak diperlukan lagi. Saya merindukan saat itu, karena saya percaya dunia akan menjadi jauh lebih baik tanpa adanya agama. Lebih enak buat saya, karena saya dapat melakukan apa saja yang saya sukai tanpa perlu diingatkan bahwa saya adalah seorang berdosa dan bahwa tindakan-tindakan tertentu adalah salah. Apa hak orang-orang ini untuk menghakimi saya?
Tetapi sikap saya mulai berubah sewaktu musim dingin tahun 1985. Pada waktu itu saya adalah seorang mahasiswa di Virginia Tech, di Blacksburg, Virginia. Untuk pertama kalinya, saya mulai menyadari sisi gelap dari falsafah ateisme. Saya tadinya berpikir ateisme telah melepaskan dari belenggu agama supaya saya dapat hidup semau saya, tetapi saya mulai merasakan bahwa hidup sekehendak hati sebetulnya tidak sungguh-sungguh menyenangkan. Bahkan tampak hampa yang tidak memiliki arah. Meskipun saya tidak tahu apa alasannya, saya mulai merasa tidak tenang dan tidak puas. Saya menginginkan sesuatu yang lebih, tetapi saya tidak tahu apakah itu. Saya rasa saya menginginkan supaya hidup ini bermakna. Toh saya percaya bahwa semua manusia adalah sekedar kejadian biologis, hasil dari berjuta-juta proses acak yang secara spontan dan faktor kebetulan, menciptakan kehidupan. Kita hidup, kita tumbuh, dan kita mati, dan setelah itu kita menghilang dari keberadaan. Pada akhirnya, apa poinnya? Di masa lalu saya tidak memperhatikan hal ini karena saya sibuk mencari kesenangan-kesenangan pribadi. Tetapi tampak ada semacam hukum alam yang tidak dapat dipungkiri. Saya menemukan bahwa semakin saya memiliki, semakin saya mengingini, dan semakin saya mendapatkan, semakin kurang kepuasan yang didapat. Seolah seperti sebuah lelucon yang kejam, dan saya mendapatkan diri saya semakin tenggelam ke dalam keputus-asaan. Secara eksternal, saya memiliki segala hal, secara internal saya tidak memiliki apa-apa. Saya mulai ragu apakah saya akan pernah merasa bahagia lagi.
Lalu pada suatu hari saya sedang duduk di restoran fast-food dan makan semangkuk makanan. Tiba-tiba sekilas muncul dalam pikiran saya: "Bagaimana dengan Allah?" Saya tidak tahu darimana munculnya pikiran itu, tetapi untuk pertama kali dalam hidup saya merenungkannya dengan serius. Ada secercah harapan dalam pikiran itu, pengharapan pertama yang saya lihat dalam kurun waktu lama, dan memancar sekilas seperti sebuah mercu suar. Saya menyadari bahwa banyak orang merasa hidup mereka bermakna lewat hubungan mereka dengan Allah, dan saya cukup nekat untuk mempertimbangkan kemungkinan tersebut. Tentunya, saya tidak ingin mengakui ide keberadaan Allah, sekedar untuk menyemangati diri sendiri, tetapi saya merenungkan, apakah ada sesuatu yang berharga dibaliknya? Bagaimana jika Allah itu sungguh-2 nyata? Maka saya lanttas memutuskan untuk mencari tahu. Teman sekamar saya adalah seorang Kristen yang menghadiri sebuah gereja Baptis yang kecil di luar kota, dan saya memutuskan untuk pergi bersamanya pada hari minggu berikutnya. Saya membayangkan bahwa keinginan yang timbul mendadak untuk pergi ke gereja pasti cukup mengejutkannya, tetapi dia berusaha menutup-nutupi keheranannya. Mungkin dia tidak ingin membuat saya mengurungkan niat.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, saya berada di Gateway Baptist Church, mendengarkan seorang bernama Dewey Weaver, yang merupakan bentuk nyata stereotip seorang pengkotbah Baptis. Aksennya, gaya rambutnya, dan cara dia melambaikan Alkitabnya adalah hal-hal yang dulunya saya jadikan bahan olok-olok. Saya merasa seperti seorang idiot karena berada disana. Apa yang saya pikirkan? Saya berharap teman saya tidak tahu. Tetapi pasti ada hal yang menarik dari kata-kata pastor Weaver, karena minggu berikutnya, saya pergi lagi kesana. Bahkan saya terus kembali minggu demi minggu. Setelah beberapa lama saya tidak lagi memperhatikan gaya pastor Weaver, dan saya menyukai rasa humornya, dan terlebih penting, pesan yang dikotbahkan menunjukkan mengapa saya berada dalam keputus-asaan: Yaitu karena saya adalah seorang berdosa yang sangat membutuhkan seorang juru selamat. Saya telah pernah mendengarnya sebelum nya, tentunya, dan meremehkannya sebagai omongan yang bodoh, tetapi kali ini omongan tersebut mulai terekam dalam benak saya. Yesus bukan seorang pengkotbah dari Galilea yang mengumandangkan sejumlah ajaran tentang menjadi baik, dan Dia juga bukan seorang nasionalis Yahudi yang terlibat kesulitan dengan penguasa Romawi. Menurut pastor Weaver, Dia adalah Allah dalam rupa manusia, yang mengasihi kita sedemikian besar sehingga Dia menyerahkan nyawaNya sendiri untuk menebus dosa-dosa saya, supaya saya dapat dimaafkan.
Saya sedang memikirkan pesan injil pada suatu malam waktu saya berangkat tidur, dan untuk pertama kalinya buat saya semua menjadi masuk akal. Saya terheran-heran oleh logika dibaliknya, dan betapa itu dapat menjelaskan dengan tepat kondisi manusia, terutama saya sendiri. Saya sungguh mempercayai pesan yang aneh dan bodoh, yang dulu pernah saya heran kenapa ada orang-orang yang mempercayainya. Dan sekarang, semua tampak begitu jelas, dan saya merenungkan mengapa selama ini saya begitu buta.
Malam itu saya meminta Yesus untuk mengampuni semua dosa-dosa saya, dan saya memintaNya untuk datang ke dalam hati saya, seperti dijelaskan oleh pastor Weaver. Saya berjanji untuk mengikuti Tuhan sejak hari itu, sebaik mungkin.
Beberapa hari sesudahnya saya mendatangi sebuah toko buku Kristen untuk mendapatkan bahan bacaan untuk menolong saya memahami iman yang baru ini. Saya menyukai ide tentang Yesus, tetapi saya masih tidak peduli tentang konsep agama yang terorganisir. Maka secara alami buku-buku seperti "How to Be a Christian without being Religius, oleh Fritz Ridenour, menarik hati saya dan saya membelinya. Saya juga membeli buku karangan D. James Kennedy, "Why I Believe, and Truths that Transform." Buku-buku seperti ini membentuk fondasi teologi Kristen saya, yang secara alami menyerupai teologi Calvinis dan Injili para pengarangnya.Saya juga membaca sejumlah buku membela iman, buku-buku yang menjelaskan dasar rasional dari kebenaran Kristiani. Penting buat saya untuk mengetahui kenapa saya percaya apa yang saya percaya, baik untuk saya sendiri dan juga karena saya ingin dapat membela diri terhadap orang-orang yang berasumsi seperti saya dulu, bahwa orang Kristen pasti orang yang bodoh.
Saya berhasil lulus dari universitas dan setahun sesudahnya Tuhan memberkati saya dengan seorang istri yang terbaik. Beberapa tahun kemudian Dia memberkati saya kembali dengan seorang anak laki-laki. Saya membaca Alkitab dan bahkan belajar sedikit bahasa Yunani supaya dapat membaca Perjanjian Baru dalam bahasa aslinya. Tetapi satu hal yang tidak pernah dapat saya lakukan adalah mencari sebuah gereja diman saya merasa nyaman sepenuhnya. Menurut hitungan saya, saya dan istri telah mengunjungi dua belas gereja yang berbeda di wilayah Virginia Utara. Ada gereja Baptis, Assemblies of God, Presbiterian, satu diantaranya bahkan Messianic Jewish, tetapi umumnya adalah "gereja non-denominasi" yang biasanya umumnya berarti semi-Baptis. Saya menemukan hal-hal yang baik di setiap gereja-gereja ini, dan orang-orang yang baik, tetapi saya perhatikan bahwa setiap kali saya pergi ke sebuah gereja baru, saya mendengar teologi yang baru pula. Dan cepat atau lambat saya menemukan sesuatu dalam teologi itu yang bertentangan dengan keyakinan saya. Mungkin mereka punya pandangan tentang akhir jaman yang saya anggap aneh, atau mereka menolak kemungkinan tentang karunia-karunia karismatis (saya sendiri bukan karismatis, tetapi saya pikir salah kalau orang menolak ide ini, apalagi begitu jelas diajarkan dalam Alkitab). Kita menghadiri sebuah gereja Episcopal yang semi-karismatik yang sangat kami sukai, sampai saya mendapatkan bahwa mereka membaptis bayi-bayi. Akhirnya kami pindah ke sebuah gereja "berdasarkan Alkitab". Kami tidak puas sepenuhnya, tetapi kami sudah capai pindah-pindah gereja.
Sepanjang tahun-tahun tersebut, satu gereja yang sama sekali tidak pernah masuk hitungan saya adalah Gereja Katolik. Saya tidak percaya bahwa Sri Paus adalah sang anti-Kristus, ataupun hal-hal seperti demikian, tetapi saya tidak percaya bahwa iman Katolik penuh dengan ajaran-ajaran yang tidak terdapat di Alkitab. Baiklah mungkin saya mau mengakui bahwa Katolik adalah sebuah Gereja Kristen, tetapi nyaris tidak memenuhi syarat (dan hanya karena saya ketemu seorang Katolik yang menunjukkan rasa tertarik akan Allah). Secara umum, saya merasa siapapun yang membaca dan percaya pada Alkitab akan menjauh dari iman Katolik. Saya berasumsi berjuta-juta orang Katolik karena terlahir sebagai Katolik, dan nyata bahwa mereka tidak tahu sama sekali tentang Alkitab. Saya kasihan kepada mereka dan saya berharap mereka suatu hari membaca Alkitab sendiri tanpa bantuan Sri Paus. Kalau itu terjadi, pasti status mereka akan segera berubah menjadi mantan-Katolik.
Sayangnya, umumnya orang Katolik yang saya kenal sama-sama tidak tertarik pada Alkitab, Yesus, atau Allah. Mereka sepenuhnya sekuler, sama sekali tidak berbeda dengan orang bukan Kristen, kecuali bahwa mereka pergi ke gereja sekali-sekali, yang agaknya seperti sebuah beban bagi mereka. (Seorang teman saya mengatakan tujuannya setiap hari minggu adalah masuk gereja, "memberikan satu jamnya", dan keluar). Saya sungguh tidak ingin menjadi bagian dari sebuah gereja yang menghasilkan kualitas rohani yang sekarat seperti itu.
Tetapi suatu hari seorang teman Kristen di tempat kerja muncul di ruang kantor saya dengan sebuah buku di tangannya. Dia mengatakan seorang Katolik sahabatnya telah memberikan buku itu. Judulnya "Catholicism and Fundamentalism" oleh Karl Keating. Katanya isinya membela iman Katolik terhadap serangan-serangan kaum Fundamentalis anti-Katolik, dan sekaligus menunjukkan bahwa iman Katolik menawarkan penjelasan Alkitab yang lebih baik dan lebih koheren ketimbang Fundamentalisme Protestan. Jujurnya, saya merasa geli bahwa seseorang punya keberanian untuk mencoba membela iman Katolik dengan berdasarkan Alkitab. Saya yakin pasti mudah untuk membantah argumen-argumen Karl Keating karena saya tahu bahwa teologi Katolik sangat tidak sesuai dengan Alkitab.
Maka saya membaca buku itu dan saya gembiara bahwa Mr.Keating adalah seorang penulis yang punya rasa humor yang besar. Pertama, saya membacanya seolah sebagai seorang jaksa penuntut, mencari kelemahannya. Tetapi saya terheran bahwa orang ini ternyata rasional dan pintar bicara, dan apa yang dikatakannya sungguh masuk akal. Saya mulai membacanya dengan lebih simpatik, dan saya sungguh mencoba untuk mengerti apa yang dikatakan Mr.Keating. Setelah mendengar sendiri teologi Katolik dari sumber Katolik, menjadi jelas apa yang tidak saya pahami sebelumnya. Saya heran menemukan bahwa Gereja Katolik tidak mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan Alkitab seperti yang pernah saya percayai, dan apa yang sesungguhnya diajarkan sesungguhnya punya dasar Alkitab yang kuat. Saya menyadari bahwa selama ini saya telah menyerap banyak kesalah-pahaman tentang iman Katolik. Masalahnya, karena selama ini yang saya dengar semua berasal dari sumber Protestan. Dengan heran saya juga menemukan bahwa sekali saya mengerti dasar-dasar iman Katolik, saya tidak dapat membantahnya. Boleh jadi saya tidak yakin hal itu benar, tetapi saya juga tidak dapat membuktikan bahwa itu salah, dan ini membuat saya jengkel. Kalau ada suatu hal yang saya ingin merasa yakin, maka itulah iman saya. Saya ingin tahu apa yang saya yakini dan mengapa saya meyakininya. Tetapi sekarang setelah membaca buku ini, saya merasa tidak nyaman di lubuk hati bahwa ternyata interpretasi Katolik atas Kitab Suci sesungguhnya lebih masuk akal ketimbang interpretasi saya sendiri.
Seperti saya katakan, saya tidak begitu saja diyakinkan bahwa Katolik benar, tetapi saya tahu saya tidak akan dapat beristirahat sampai saya mendapatkan jawabannya. Maka saya mulai membaca segala yang bisa saya dapatkan. Saya mencari buku-buku apologetika Katolik maupun Protestan. Saya membaca buku karangan James Akin, Dave Armstrong, Scott Hahn, Mark Shea, diantara banyak lainnya di sisi Katolik, dan Geisler, Kennery, Ridenour dan Scott, di sisi Protestan. Secara umum, kesan saya adalah bahwa para pengarang Protestan tidak mengerti teologi Katolik dengan baik, karena mereka terus mengkritik hal-hal yang tidak diajarkan oleh Gereja Katolik. Argumen-argumen Katolik tampak bagus dan saya berharap salah satu pengarang Protestan dapat menandinginya, tetapi mereka tidak pernah bisa. Setelah saya semakin memahami argumen teologi Katolik, saya menemukan bahwa saya dengan mudah melawan argumen Protestan terhadapnya, di lain pihak saya tidak dapat melawan argumen Katolik terhadap teologi Protestan.
Saya mulai mempertanyakan secara serius fondasi doktrin-doktrin Protestanisme: sola fide dan sola scriptura. Gereja Katolik memberikan argumen kuat bahwa doktrin ini tidak diajarkan dalam Alkitab, dan bahkan keduanya ditolak oleh Alkitab. Tidak hanya itu, kedua doktrin tersebut tidak diajarkan oleh siapapun sebelum gerakan Reformasi Protestan. Saya merasa argumen Protestan dalam hal ini tidak meyakinkan. Mereka tampak mengambil Alkitab diluar konteks dan mengenyampingkan ayat-ayat yang bertentangan dengan interpretasi mereka. Kadang mereka mengutip dari sumber Kristen perdana yang tampak mendukung posisi mereka, tetapi mereka mengabaikan hal-hal lain oleh penulis yang sama yang menjadikan jelas bahwa mereka tidak mendukung argumen Protestanisme. Karena Protestan adalah pihak yang memisahkan diri dari Gereja dan menuduh Gereja telah terkorupsi, saya tahu bahwa beban untuk membuktikan hal ini ada pada pundak mereka, dan sejujurnya, saya merasa mereka tidak berhasil membuat argumen yang kuat.
Makin saya mengerti teologi Katolik, semakin saya merasa bahwa Katolik lebih sesuai dengan Alkitab ketimbang teologi saya. Kenyataan ini sangat mengganggu saya karena saya sangat menjunjung tinggi Alkitab. Saya bangga sebagai Protestan Injili karena kita punya reputasi sebagai kaum yang meninterpretasi ayat Kitab Suci secara literal, dan kita sering dijulusi "Bible Christian". Tetapi setelah saya mempelajari interpretasi Katolik, saya merasa bahwa interpretasi Katolik lebih benar dan sesuai dengan arti teks Kitab Suci, dan memang benar adanya apa yang dituliskan oleh Mr.Keating dalam bukunya.

Kaum Fundamentalis menggunakan Alkitab untuk melindungi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Kitab Suci, yang di-interpretasikan sedemikian supaya membenarkan apa yang mereka pegang, meskipun umumnya kaum Fundamentalis percaya bahwa apa yang mereka percaya datang langsung dari teks Kitab Suci. Mereka tidak ragu-ragu untuk membaca secara diluar konteks kalau perlu demi untuk memelihara posisi mereka - posisi yang mendahului interpretasi atas Kitab Suci (pre-konsepsi).
Saya menemukan bahwa pada kasus-kasus dimana Katolik dan Protestan tidak setuju menyangkut interpretasi Kitab Suci, ironisnya, justru adalah Katolik yang menginerpretasikan Kitab Suci secara literal, sedangkan kita Protestan memberikan interpretasi yang figuratif dan alegori. Beberapa contoh untuk menggambarkan ini:
Ketika Yesus berkata, "Kamu harus dilahirkan lewat air dan Roh," Katolik meninterpretasikan secara literal: "air" ya maksudnya "air", yakni pembaptisan. Tetapi sebagian Protestan mengatakan bahwa air menunjuk pada sesuatu hal yang lain, mungkin kotbah Injil, ataupun cairan ketuban dari kelahiran seorang bayi.

Ketika Paulus berkata Yesus membersihkan gerejaNya dengan "pembasuhan air," Katolik meng-interpretasikan ini secara literal. "Pembasuhan dengan air" sama dengan "pembasuhan dengan air", satu lagi referensi terhadap pembaptisan.
Tetapi sebagian Protestan mengatakan hal ini menunjuk pada sesuatu yang lain, mungkin maksudnya Kitab Suci.

Ketika Yesus berkata, "Jika kamu mengampuni dosanya, maka mereka diampuni; jika kamu tidak mengampuni, maka mereka tidak diampuni, " Katolik lagi-lagi memahaminya secara literal dan percaya bahwa Yesus memberikan otoritas kepada para rasul-rasulNya untuk mengampuni dosa dalam nama-Nya. Tetapi sebagian Protestan mengatakan bahwa ini cuma sebuah referensi atas otoritas para rasul untuk mengabarkan Injil.

Lagi, ketika Yesus berkata, "Inilah tubuh-Ku," dan "barangsaiapa makan dagingKu dan minum darahKu mendapat hidup yang kekal, " Katolik memahaminya secara literal. Ekaristi adalah tubuh-Nya dan sungguh-sungguh daging dan darah-Nya, meskipun tidak tampak demikian. Tetapi umumnya Protestan mengatakn roti dan anggur tetap sebagai roti dan anggur dan bahwa sekali lagi kita tidak boleh mengambil kata-kata Yesus secara literal.

Ketika Yakobus berkata, "Kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman," Katolik memahaminya secara literal.
"Bukan hanya karena iman" sama dengan "bukan hanya karena iman." Tetapi Protestan bersikeras bahwa "bukan hanya karena iman" sesungguhnya artinya kita dibenarkan oleh iman saja. Ini sebenarnya adalah salah satu doktrin inti Protestanisme, yakni Sola Fide.

Sungguh ironis! Tampak bagi saya bahwa teologi Katolik biasanya membiarkan ayat Kitab Suci memiliki arti sebagaimana tertulis, tanpa tafsiran dan pelintiran bahasa yang ruwet yang kadang diperlukan untuk mendukung teologi Protestan. Saya merasa tidak nyaman bahwa banyak ayat-ayat yang problematis dalam Kitab Suci, muncul karena saya memaksakan pengertian Protestan terhadap Kitab Suci. Pemahaman Katolik tampak lebih cocok dengan mudahnya.
Dalam riset saya, saya juga membaca sejumlah tulisan-tulisan perdana orang-orang Kristen, yakni orang-orang yang belajar injil langsung dari para rasul, atau dari penerus sesudahnya. Sebagai seorang Protestan saya tidak pernah mendengar hal ini. Saya tidak pernah mendengar tentang murid rasul Yohanes, Ignatius dari Antiokia dan Polycarpus dari Smyrna. Saya juga tidak pernah mendengar tentang Irenaus ataupun Yustinus Martir. Saya tidak tahu bahwa orang-orang ini dan sejumlah orang lainnya meninggalkan tulisan-tulisan yang dapat memberi pencerahan menyangkut iman Gereja perdana. Dalam masa 12 tahun saya sebagai Protestan tidak seorangpun pernah memberitahukan saya bahwa murid-murid para rasul meninggalkan kita tulisan-tulisan yang menjadi saksi atas iman apostolik yang sejati. Tidakkah ini hal yang aneh? Kita sesungguhnya memiliki komentar Kitab Suci dari abad ke-2, yang sebagian ditulis oleh orang-orang yang mengenal para penulis Kitab Suci secara pribadi. Mengapa kita mengabaikan sumber yang luar biasa ini? Kita Protestan percaya bahwa Roh Kudus berbicara pada kita, maka bukankah sudah sepantasnya melihat apa yang Dia katakan kepada murid-murid dari para rasul-rasulNya, yang banyak diantaranya menyerahkan nyawanya ketimbang menyangkal iman mereka?
Saya pribadi jelas ingin mengetahui apa yang mereka katakan. Orang-orang ini mengenal para rasul, hidup dalam kultur yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama, dan sangat mungkin membaca salinan-salinan asli dari kitab-kitab Perjanjian Baru dalam bahasa asli mereka. Kalau ada seseorang yang tahu interpretasi Kitab Suci yang benar, maka mereka pastilah orangnya. Maka saya membaca semua surat-surat Ignatius dari Antiokia, dan Polycarpus dari Smyrna, keduanya adalah murid-murid rasul Yohanes. Saya membaca tulisan Irenaeus dari Lyons, yang adalah murid Polycarpus. Saya membaca surat kepada jemaat di Korintus yang ditulis oleh Clement. Saya juga membaca bagian dari surat Yustinus Martir kepada kaisar Romawi, Antonius Pius, yang ditulis dalam memori para rasul, dan yang mencoba menjelaskan iman Kristen kepada seorang bukan Kristen.
Tampak sangat jelas bagi saya bahwa Gereja abad ke-2 sangat menyerupai Gereja Katolik dalam hal kepercayaannya ketimbang gereja saya yang mengaku berdasarkan Alkitab. Ignatius, murid rasul Yohanes, bahkan mengidentifikasi Gereja sebagai "Gereja Katolik". Mereka memiliki uskup-uskup, imam-imam dan deakon-deakon; mereka percaya mereka bisa kehilangan keselamatannya; mereka percaya regenerasi pembaptisan (membawa kelahiran baru); mereka menganggap Ekaristi sebagai suatu kurban, dan bahwa Ekaristi sungguh-sungguh adalah Tubuh dan Darah Kristus, dan mereka percaya suksesi para uskup di Gereja adalah standar keortodoksan iman Kristen. Mereka memporak-porandakan asumsi saya mengenai Gereja perdana. Saya selama ini selalu berasumsi bahwa Gereja perdana intinya adalah Protestan dalam doktrin-doktrinnya dan doktrin-doktrin Katolik adalah hasil korupsi iman yang muncul sekitar abad ke-5. Ternyata tidak demikian halnya. Bahkan saya tidak dapat menemukan bukti-bukti bahwa doktrin-doktrin Protestan seperti Sola Scriptura dan Sola Fide sudah ada sejak jaman Gereja perdana. Ini sungguh membuat saya tercengang-cengang, dan mengingatkan saya pada kata-kata terkenal dari mendiang mantan Anglikan terkenal, John Henry Newman, "Untuk mendalami sejarah adalah untuk berhenti menjadi seorang Protestan."
Semua ini mengguncangkan saya tetapi saat ini saya berusaha melihat secara obyektif. Saya merasa beruntung karena saya datang pada iman Kristen sebagai orang dewasa. Karena saya tidak dibesarkan dalam iman Kristen Baptis, tidak tertutup kemungkinan buat saya bahwa ada kesalahan. Oleh karena itu saya keluar dari lingkaran dan mencoba melihat denominasi saya dan teologi saya secara seobyektif mungkin. Saya heran menyadari bahwa teologi injili yang saya pegang ada fenomena di Amerika yang umurnya tidak lebih dari seratus lima puluh tahun, jauh lebih muda dari jaman para rasul. Setelah membaca tulisan umat Kristen perdana, saya tahu bahwa mereka pasti menolak teologi yang saya anut sebagai "injil yang lain" (Gal 1:6-8).
Setelah semua yang saya pelajari, saya harus mengakui bahwa penjelasan Katolik menyangkut Kitab Suci dan sejarah jauh lebih benar ketimbang penjelasan denominasi saya, dan saya menyadari bahwa jika saya ingin terus menjadi "umat Kristen yang percaya Alkitab", saya harus menjadi Katolik. Sejauh yang dapat saya katakan, penjelasan Katolik tentang iman Kristen adalah konsisten dengan makna sederhana dari Alkitab, dan konsisten dengan apa yang dipercaya oleh umat Kristen perdana dari jaman apostolik hingga ke jaman Reformasi.
Protestantisme, di lain pihak, berlandaskan pada dua doktrin yang tidak didukung oleh Kitab Suci, dan yang sepenuhnya absen dari sejarah Kristen sebelum Reformasi. Saya tidak melihat bahwa Protestanisme adalah kembali ke kemurnian Kristen perdana, seperti telah diajarkan kepada saya sebelumnya, karena Gereja perdana adalah Gereja Katolik. Oleh karena itu saya menyimpulkan, dengan perasaan sedih, bahwa Protestanisme bukanlah "reformasi" iman sama sekali, tetapi korupsi iman. Meskipun begitu, meskipun pemecah-belahan Gereja adalah suatu hal yang tragis, Allah telah membawa hal yang baik daripadanya. Sekarang ini, Protestan Injili adalah termasuk umat Kristen yang terbaik dan paling berdedikasi di dunia. Sulit untuk menyalahkan dalam hal ini. Oleh karena itu saya membuat suatu website untuk membantu orang-orang baik ini, para saudara-saudari saya dalam Kristus, untuk mengerti sebenarnya tentang Gereja Katolik.

Selasa, 04 Januari 2011

THANK YOU JESUS, I AM HOME

Sebuah  Perjalanan  Rohani dari Pengembaraan Iman. Di COpy dari Kesaksian  http://www.katolisitas.org/.

Sekilas mengenai saya

Nama saya adalah Maria Natalia Brownell (nama saya sebelum menikah: Maria Natalia Budiman). Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik. Sedari kecil, saya sudah tertarik untuk aktif di
gereja Katolik. Saya sering ikut koor gereja, menjadi pengantar, dan cukup aktif di kegiatan Mudika. Walaupun demikian, kegiatan yang saya ikuti jarang yang bersifat pendalaman iman. Di sekolah Katolik, memang saya mendapat pelajaran agama Katolik, tetapi sifatnya sangat mendasar.

*Misalnya, saya tidak pernah diajar untuk membaca dan mengerti alkitab, saya kurang mengerti akan pentingnya doa dan devosi terhadap bunda Maria dan santo/santa, banyak hal di perayaan Misa kudus yang bagi saya adalah ritualitas biasa (tanpa mengerti akan artinya). Kurangnya pengertian saya terhadap iman Katolik membuat saya pergi ke gereja Katolik hanya karena 'memang begitulah seharusnya', bukan karena didasarkan atas motivasi hati dan keinginan saya untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Waktu saya di SMA, saya bertanya-tanya terhadap diri saya sendiri. Sepertinya semua orang itu melalui pola hidup yang sama: sekolah, bekerja, menikah, berkeluarga, pensiun, lalu meninggal. Sepertinya sangat monoton dan membosankan. Saya lalu bertanya, apakah ada arti kehidupan yang lebih dalam daripada hanya mengikuti pola yang monoton begitu saja?
Kenapa Tuhan menghendaki saya untuk hidup di dunia ini? Saya berharap suatu saat saya dapat menjawab pertanyaan ini…

Kegiatan saya sewaktu di SMA sangat banyak, terutama di kelas III karena persiapan untuk masuk Universitas. Waktu itu, saya ingin sekali bersekolah di luar negeri. Walaupun mulanya berat bagi orang tua saya mengijinkan anak perempuan satu-satunya untuk pergi ke luar negeri pada umur 17 tahun, mereka akhirnya mengijinkan saya pergi juga. Waktu itu $1 masih seharga Rp
2000, tidak semahal sekarang. Walaupun mereka hanya bisa menjanjikan untuk menyekolahkan saya selama 2 tahun pertama, saya tetap nekat untuk pergi. Saya memutuskan untuk mengambil bidang Tehnik Kimia di Oregon State University, Amerika. Satu tahun kemudian, saya pindah ke University of Wisconsin, Madison, Wisconsin.

*Kehidupan saya di Amerika*

Di Madison, Universitasnya besar sekali, dan jauh lebih sulit daripada di Oregon. Untungnya banyak anak Indonesia yang bersekolah di sana. Saya mencoba untuk lebih ikut aktif di kegiatan Mudika.
Alasan utamanya adalah karena ingin mendalami iman saya lebih lanjut. Jauh dari keluarga membuat saya lebih terpanggil untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Di Mudika, saya mengusulkan untuk belajar Alkitab, tetapi anak-anak Mudika semuanya protes. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah capai belajar selama seminggu, dan mereka hanya mau berkumpul untuk bersosialisasi saja.

Belajar Alkitab sifatnya terlalu serius. Walaupun tidak setuju, saya diam saja dan tidak memaksakan kehendak saya. Saya merasa seperti minoritas di kelompok Mudika itu, walaupun kita pergi ke gereja yang sama. Perasaan seperti minoritas ini membuat saya mencari tahu kelompok anak Indonesia yang lain: ICF / *Indonesian Christian Fellowship* (Persekutuan Kristen Indonesia). Ini adalah kelompok mahasiswa Protestan. Waktu saya datang pertama kali, saya disambut dengan hangat. Pertemuannya dibuka dengan menyanyi pujian, kesaksian iman, dan presentasi dari speaker mengenai Alkitab. Saya sangat menikmati pertemuan ICF ini. Saya merasakan persahabatan dalam iman yang begitu kuat dan murni. Walaupun saya anak baru, saya sudah merasa seperti bagian dari keluarga besar ICF. Saya tidak pernah merasa bersalah mengikuti kegiatan ICF, karena bagi saya yang penting adalah saya menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Walaupun ICF adalah kelompok Protestan, saat itu saya merasa kita mempunyai Tuhan yang sama, dan iman Kristiani yang sama. Membaca dan merenungkan firman Tuhan menjadi sumber kekuatan saya, yang menemani saya dalam kesendirian. Saya seperti menemukan air kehidupan baru yang menyegarkan kehidupan saya. Tidak pernah sebelumnya saya merasakan firman Tuhan begitu hidup dan mengena. Seperti orang sedang jatuh cinta, saya merasa jatuh cinta kepada Tuhan untuk pertama kalinya dalam hidup saya.

Sedikit demi sedikit saya mulai bisa menjawab pertanyaan saya waktu di SMA dulu, bahwa tujuan hidup saya adalah hidup bersama dengan Tuhan di Surga nantinya. Kehidupan saya di dunia ini adalah masa persiapan saya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ajaran Protestan sangat menitik beratkan
pada 'lahir baru' dan 'keselamatan di Surga'. Saya yakin bahwa saat itu apabila saya meninggal, saya akan langsung masuk ke Surga.


Keterlibatan saya dalam kelompok ICF berkembang dari sekedar hadir di pertemuan menjadi anggota kursus kepemimpinan Kristen, pemimpin group '*bible study*' (pendalaman Alkitab), '*elder*' (pemimpin) bagian evangelisasi, koordinator beberapa perayaan kampus, ikut serta dalam kelompok
missionaris ke Guadalajara (Mexico) dan aktif terlibat dalam konferensi kelompok-kelompok ICF di Amerika.

*Saya menjadi Protestan*

Saat itu, saya sangat yakin bahwa yang terpenting adalah hubungan langsung saya dengan Bapa, Kristus dan Roh Kudus. Hal ini membuat saya semakin yakin, saat itu, bahwa banyak tradisi di Gereja
Katolik yang sebenarnya 'tidak perlu'; seperti penghormatan kepada Bunda Maria, santo/santa, otoritas Paus sebagai pemimpin gereja, pengakuan dosa terhadap pastor, tradisi dan simbol-simbol di gereja dll. Di samping itu, orang-orang Protestan juga saya nilai lebih serius terhadap iman Kristiani daripada
orang-orang Katolik. Saya juga sangat tersentuh dengan Kebaktian di gereja Protestan; dengan lagu-lagu yang indah, dan pendalaman Alkitab yang sangat mengena. Saat itu saya merasa gereja Protestan begitu 'hidup' dengan musik, doa, dan firman Tuhan; dan saya melihat Gereja Katolik begitu penuh
ritual, sulit dimengerti dan tidak bisa menjamah hati saya. Tanpa saya sadari, sedikit demi sedikit saya semakin meninggalkan Gereja Katolik. Mulai dari hanya sekedar sesekali datang ke gereja Protestan (inter-denominasi) , menjadi anggota tetap gereja Protestan. Saya begitu terlibat di kelompok Protestan ini, sampai ingin menjadi seorang misionaris. Saya begitu mencintai Tuhan dan menginginkan banyak orang mengenal dan mencintai Tuhan seperti yang saya alami.

Orang tua dan keluarga saya sangat menyesali keputusan yang saya ambil untuk pindah ke gereja Protestan. Mereka mencoba untuk mempengaruhi saya, tetapi selalu berakhir dengan perdebatan dan sakit hati. Ayah saya berkomentar "Lia, kamu sudah diajar di Gereja Katolik yang dimulai oleh Kristus, dan diteruskan oleh Petrus, rasul Kristus yang langsung diajar oleh Kristus sendiri, kenapa kamu masih pergi ke gereja lain?" Saya langsung menjawab dengan bersemangat, "Tetapi gereja Protestan bisa membuat saya lebih dekat dengan Tuhan, saya lebih mengerti akan Alkitab…..". Perdebatan ini biasanya diakhiri oleh saya mengutip ayat Alkitab, dan orangtua saya tidak bisa menjawab lebih lanjut. Saya ingat bahwa hal ini membuat mereka sangat sedih dan menyesal. Akhirnya, orangtua saya hanya bisa berdoa agar suatu hari saya bisa kembali ke gereja Katolik.

Tanpa terasa, sudah hampir 5 tahun lamanya saya menjadi anggota gereja Protestan. Selama studi saya di universitas, saya pernah kerja magang di Detroit (Michigan), dan mengambil Summer school di Houston (Texas). Di tempat yang berbeda ini, saya juga pindah ke gereja Protestan yang berbeda denominasinya. Di Detroit, saya pergi ke Gereja Baptis, di Houston saya pergi ke Gereja Pantekosta. Di tahun 1997, saya ditawarkan untuk bekerja di South Carolina. Saya pun pindah ke Gereja '*Southern Baptist*'. Saya tidak tahu bagaimana caranya memilih suatu denominasi tertentu. Waktu saya tanya ke penasehat gereja saya yang dulu, dia hanya bisa menjawab, "Cari gereja yang cocok di hatimu dan bisa membuat kamu merasa senang".

*Perjalanan pulang ke Roma*
Di tahun 1996, Tuhan mempertemukan saya dengan calon suami saya: Kyle Brownell. Dia adalah seorang Amerika, dan seorang Katolik. Hampir semua teman Protestan saya tidak setuju akan hubungan saya dengan Kyle. Mereka mengganggap bahwa orang Katolik itu bukan 'orang percaya', sehingga harus diinjili. Saat itu saya pikir bahwa saya akan dipakai Tuhan untuk mengubahnya menjadi seorang Protestan, terutama karena dia (seperti banyak orang Katolik yang saya kenal) tidak begitu mengerti akan iman Katoliknya. Saya sangat yakin bahwa dalam waktu beberapa tahun, Kyle akan menjadi Protestan seperti saya. Tidak pernah saya bayangkan, bahwa ternyata saya keliru. Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi kehidupan iman saya.

Tinggal di South Carolina dengan lingkungan yang baru, jauh dari teman-teman ICF-Madison membuat saya merenung…. Untuk pertama kalinya saya bertanya-tanya di dalam hati, kenapa setiap saya pindah tempat, saya harus mencari gereja Protestan yang baru? Sebenarnya gereja Protestan mana
yang lebih benar? Di Amerika sendiri gereja Protestan terdiri dari sekitar 20,000 denominasi. Semuanya menganggap denominasi-nya adalah yang benar, yang diinspirasikan langsung dari Roh Kudus. Kalau benar semuanya dari Roh Kudus, dan hanya ada satu Roh Kudus, kenapa ada 20,000 denominasi yang berbeda? Apakah cara orang memilih denominasi hanya didasarkan akan '*feeling
good*' (perasaan cocok/senang) saja? Apakah ada arti yang lebih mendalam daripada hanya sekedar '*feeling good*'? Saya bertekat bahwa saya harus memutuskan untuk yang terakhir kalinya, gereja mana yang saya pilih. Kali ini saya harus benar-benar mengerti mengapa saya memilih gereja tersebut, dan bukan hanya sekedar '*feeling good*' belaka.

Hal lain yang membuat saya bertanya-tanya akan pengertian iman Protestan, adalah bahwa setelah seseorang "menerima Tuhan Yesus di dalam hati", seseorang langsung dijamin masuk surga. Walaupun dia melakukan dosa apapun selanjutnya, kekudusan Kristus akan menyelimuti hati orang tersebut. Dengan kata lain, seseorang akan tetap langsung masuk ke Surga kalau dia meninggal, walaupun dia tercemar akan dosa dan hidup dalam kegelapan, karena Kristus akan menyelimutinya dengan kekudusanNya. Kalau memang begitu, saya berpikir, apa alasan kita untuk menjadi lebih baik, menyucikan diri dan menjadi kudus?

Di Alkitab jelas ditulis bahwa hanya orang kudus yang bisa masuk surga, bukan orang yang 'diselimuti' oleh kekudusan Kristus. Rasul Yakobus menulis secara jelas bahwa "Iman tanpa perbuatan adalah mati" (Yak 2:17, 26). Kalau begitu tidak cukup bahwa kita hanya mempunyai iman saja, tanpa disertai perbuatan. Perbuatan harus mengikuti iman, harus ada buah-buah iman yang terlihat lebih dari sekedar janji atau perkataan saja. Waktu saya tanyakan hal ini kepada pendeta/penasihat Protestan, mereka mengatakan bahwa apabila seorang yang 'lahir baru' tidak menunjukkan perbuatan pertobatan,
artinya dia tidak benar-benar diselamatkan. Tetapi, bagaimana gereja Protestan bisa dengan yakin mengatakan bahwa seseorang selamat atau tidak hanya berdasarkan pada pertanyaan, "Apakah kamu menerima Tuhan Yesus di dalam hatimu?" Bukankah keyakinan ini hanya berdasarkan iman saja? Saya melihat adanya pandangan yang tidak konsisten dari pernyataan iman Protestan ini.

Gereja Protestan tidak memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria. Maria hanya sekedar diakui sebagai bunda Yesus. Menghormati Bunda Maria dianggap sebagai pemujaan berhala. Apalagi pernyataan "Bunda Maria dikandung tanpa dosa". Ini dianggap sebagai pernyataan salah, karena di Alkitab ditulis semua orang jatuh ke dalam dosa (Rom 3:23). Ajaran Protestan akan Bunda Maria ini membuat saya bertanya-tanya. Bagaimana gereja Protestan menanggapi penampakan Bunda Maria yang terbukti terjadi di beberapa tempat di dunia, tentang banyak mukjijat yang terjadi sehubungan dengan penampakkan tersebut, dan dampak penampakan itu terhadap pertobatan jutaan orang yang kembali kepada Tuhan? Lalu bagaimana gereja Protestan mengartikan santo/santa yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu, dan tubuhnya tetap utuh tidak berubah?

Gereja Protestan juga mengartikan bahwa roti dan anggur yang diterima waktu di kebaktian, adalah simbol belaka untuk mengenang Kristus, tanpa ada arti yang lebih lanjut. Hal inipun membuat saya bertanya, bagaimana gereja Protestan mengartikan ayat Alkitab "Barangsiapa makan dan minum tanpa
mengakui Tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya"* *(1 Kor 11:29). Juga dalam kitab Rasul Yohanes setelah mereka mendengar Yesus mengajarkan hal Roti Hidup, banyak yang pergi meninggalkan- Nya (lih. Yoh 6:66), justru karena kesungguhan Yesus tentang hal ini. Apabila benar bahwa roti dan anggur hanya simbol biasa, mengapa menimbulkan akibat sampai sedemikian? Lalu bagaimana dengan banyak mukjijat yang terjadi sebubungan dengan 'hosti' kudus, yang buktinya masih dapat ditemukan saat ini? Sepertinya, saya berpikir, ada arti yang lebih daripada hanya sekedar simbol roti-anggur belaka.

Semua pertanyaan ini membuat saya mulai ragu akan 'KEUTUHAN' iman Kristiani yang dipercayai oleh gereja Protestan. Hal ini membuat hati saya tidak damai. Sepertinya ada perdebatan di dalam hati saya, karena jawaban yang saya terima tidak memuaskan. Entah bagaimana, saya ingin berdoa dan menyembah Kristus dalam kedamaian. Saya tidak perduli lagi akan musik yang meriah, atau kotbah yang bersemangat. Yang saya butuhkan adalah kedamaian dan kebenaran yang utuh. Saya ingin merenungi kehidupan Kristus secara keseluruhan, termasuk kerendahan hati-Nya waktu membasuh kaki para murid-Nya dan sengsara-Nya di kayu salib. Di gereja Protestan, tidak ada upacara Kamis Putih atau Jumat Agung, mereka hanya merayakan Paskah.

Di manapun saya berada, saya ingin pergi ke rumah Tuhan yang sama, yang percaya akan iman yang sama. Saya rindu akan gereja yang bisa menjawab pertanyaan saya di atas bukan dengan perdebatan, tetapi dengan pengertian yang utuh dan tidak mempertentangkan ayat yang satu dengan ayat yang
lain. "Tuhan, mohon tunjukkan, saya harus ke gereja yang mana? Saya ingin ke gereja yang Engkau dirikan…"

*Gereja Katolik mempunyai jawaban *

Suatu hari, hal yang luar biasa terjadi dalam hidup saya. Sepertinya ada suara yang begitu lembut dalam hati saya memanggil saya untuk berdoa di Misa Gereja Katolik. Hal ini sangat aneh sekali bagi saya, karena saat itu sudah sekitar 6 tahun saya meninggalkan Gereja Katolik. Ikut dalam perayaan Ekaristi kudus yang pertama kali setelah sekian lama memberikan kesan yang lain dalam hati saya. Fokus dari Misa adalah Kristus, Anak Domba Allah. Saat inilah saya akhirnya dapat berdoa dengan damai dan menyatukan hati dengan pengorbanan Kristus. Di atas semua itu, …..bukan musik yang meriah, kotbah yang mengesankan, atau perasaan saya yang terpenting, tetapi kehadiran Yesus sendiri yang saya rindukan. Saya tidak dapat menjelaskan, tetapi saat itu untuk pertama kalinya saya
merasa sangat rindu untuk menerima Tubuh Kristus di dalam Komuni kudus, sesuatu perasaan kehilangan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Suara yang lembut itu sepertinya memanggil saya untuk tidak meninggalkan Gereja Katolik. Sepertinya tidak adil, saya pikir, kalau saya memutuskan untuk meninggalkan Gereja Katolik tanpa benar-benar mengerti ajaran Gereja
Katolik yang sebenarnya. Saya bertekat untuk mempelajari iman Katolik dengan lebih dalam, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Tuhan mempertemukan saya dengan pasangan suami-istri yang juga sedang ingin mendalami iman Katolik seperti saya. Mereka mengajak saya untuk belajar bersama dari buku-buku "Dr. Scott Hahn", seorang teolog Protestan ternama yang akhirnya menjadi Katolik. Dengan pengetahuan Alkitab yang sangat mendalam, Dr. Scott Hahn benar-benar menjawab pertanyaan saya dengan begitu jelas dan masuk akal. Selain Dr. Scott Hahn, kami juga belajar dari Katekismus Gereja Katolik, yang mengajarkan doktrin Gereja Katolik secara utuh dan sistimatis. Baru pernah saya melihat buku doktrin gereja yang setebal itu. Di gereja Protestan, mereka hanya belajar dari Alkitab saja, atau kalau ada buku doktrin, tidak pernah ada yang setebal buku doktrin Gereja Katolik.

Dari pendalaman iman ini, saya belajar bahwa banyak sekali kesalah-pahaman tentang Gereja Katolik, yang tidak benar. Seperti contoh, Gereja Katolik banyak dipengaruhi oleh ritualitas manusia, yang tidak didasari Alkitab. Pengertian ini sangat salah sekali, sebab ternyata ajaran Gereja
Katolik sangat Alkitabiah! Tetapi, karena ayat Alkitab mudah sekali untuk diinterpretasikan dari banyak sisi, Gereja Katolik juga percaya akan Tradisi Suci yang membantu menginterpretasikan ayat Alkitab dengan benar. Tradisi ini diturunkan dari Kristus kepada para rasul, Paus, uskup, dari generasi ke generasi. Hal inilah yang membuat Gereja Katolik tetap satu selama 2000 tahun lebih. Hal ini sangat masuk akal bagi saya, karena Kristus berkata kepada Petrus "Di atas batu karang ini saya akan dirikan GerejaKu", dan "Dia akan selalu beserta kita/GerejaNya sampai akhir" (Mat 16:18). Sebelum
sengsaraNya, Kristus berdoa agar pengikutNya selalu bersatu. Karenanya, penting sekali bagi kita untuk mengakui otoritas dari Paus, sebagai pemimpin Gereja, dan mengikuti otoritas doktrin Gereja Katolik yang membahas iman Kristiani secara utuh, langsung diturunkan dari Kristus sendiri.

Saya sangat terkagum waktu mengetahui bahwa ajaran Katolik tidak hanya berdasarkan Alkitab, dan juga sangat utuh mengupas penyempurnaan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Contohnya adalah Misa Kudus sendiri. Pembagian Misa Kudus dari Liturgi Sabda and Liturgi Ekaristi berakar
dari tradisi "pemecahan roti" yang dilakukan oleh rasul Kristus di Perjanjian Baru. Mereka berkumpul dan membahas ajaran Kristus dan 'memecahkan roti'. Kristus juga mengatakan bahwa "Inilah TubuhKu, dan inilah DarahKu. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku". Dia tidak mengatakan
"Inilah simbol TubuhKu, dan inilah simbol DarahKu". Secara khusus, Kristus menginginkan kita untuk mengenangNya dengan melakukan perayaan Ekaristi. Suatu mukjijat terjadi saat itu, dimana roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Ini menjawab pertanyaan saya mengenai arti roti dan anggur yang lebih dari hanya sekedar simbol. "Kristus sebagai Anak Domba Allah", adalah pemenuhan tradisi umat Yahudi di Perjanjian Lama, di mana anak domba dikorbankan untuk menjadi persembahan pengampunan dosa kepada Tuhan. Kristus adalah pemenuhan janji keselamatan Allah, korban yang paling sempurna, yang menyelamatkan manusia dari dosa.

Pertanyaan saya tentang Bunda Mariapun terjawab. Bunda Maria menempati tempat khusus di dalam rencana Keselamatan Allah. Di kitab Kejadian, setelah manusia pertama jatuh dalam dosa, Bunda Maria sudah dinubuatkan, 'benih dari perempuan ini akan menjadi penyelamat dunia, dan bahwa iblis akan bertekuk lutut di kakinya" (Kej 3:15). Dan di akhir dunia, seperti disebutkan di kitab Wahyu, Bunda Maria dimahkotai di surga (Why 12: 1) yang melahirkan Sang Penyelamat. Melihat keutamaan Bunda Maria dalam rencana keselamatan Allah, membuat saya yakin bahwa dia adalah seorang kudus yang harus kita hormati, seperti Kristus sendiri menghormatinya. Waktu Bunda Maria menampakkan diri kepada santa Bernadette, dia berkata "Akulah perawan yang dikandung tanpa noda", meyakinkan saya bahwa dia sungguh tidak berdosa. Seperti Malaikat Gabriel mengatakan "Salam Maria, penuh rahmat" (Luk 1:28), mengandung makna bahwa rahmat Tuhan sendirilah yang membuatnya tanpa dosa.

Apabila Tuhan dapat membuat Anak-Nya lahir dari kandungan Bunda Maria, bukankah wajar kalau Diapun dapat membuat Kristus lahir di kandungan Bunda yang suci tanpa dosa?

Pertanyaan saya tentang keselamatan pun terjawab dalam pengajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik percaya bahwa Kristus adalah Penyelamat manusia dari dosa. Dengan percaya kepadaNya kita menerima janji keselamatan di Surga. Tetapi, keselamatan ini dapat hilang, apabila iman kita tidak diikuti perbuatan (Yak 2:17,26). Tuhan ingin kita menjadi kudus, karena tanpa kekudusan kita tidak bisa masuk ke Surga (Ibr 12:14). Kekudusan ini harus dinyatakan dengan pemurnian iman dalam perbuatan kita sehari-hari, untuk lebih mencintai dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal ini kita lihat dari para rasul dan orang kudus yang meninggal dengan mengorbankan diri untuk Tuhan. Iman mereka bukan hanya berdasarkan perkataan saja, tetapi oleh pergorbanan yang dilakukan karena kasih kepada Kristus, mengikuti teladan Kristus yang rela mati di kayu salib untuk kita. Hal ini meyakinkan
saya bahwa tidak cukup kita hanya "menerima Kristus di hati kita", tetapi kita juga harus mengikuti contoh Kristus dan mencintaiNya sedemikian rupa dalam pengorbanan hidup kita sehari-hari. Karena itulah Kristus mengajarkan, "Bukan mereka yang memanggil Tuhan, Tuhan, yang akan diselamatkan,
melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa di surga" (Mat 7:21). Ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan inilah adalah jawaban terakhir yang saya perlukan untuk kembali ke Gereja Katolik…

Saya merasa sungguh bahagia sekali, sekarang saya sudah 'pulang' ke rumah Tuhan di Gereja Katolik. Ke manapun, saya tidak perlu bingung pergi ke gereja yang mana, karena di manapun Gereja Katolik tetap sama. Saya yakin bahwa Gereja Katolik ini bukan didirikan oleh orang biasa, tetapi oleh Kristus sendiri. Kristus berjanji bahwa "GerejaNya akan utuh sampai akhir dan ini telah terbukti di dalam Gereja Katolik yang bertahan dari 2000 tahun yang lalu sampai sekarang.* Deep inside my heart, I leapt for joy for I could finally say, "Here, I am, Lord. I am HOME……"

Tentang Penulis

Maria Brownell (Lia) menikah dengan seorang berkebangsaan Amerika dan dikarunia tiga anak laki-laki. Bersama dengan suami, Lia telah menyelesaikan master of theological study di Institute for Pastoral Theology – Ave Maria University, USA.**