Kalau aku mengenangkan kembali perjalanan imanku, aku tak habis-habisnya heran dan takjub. Karena memilih untuk menjadi pengikut Yesus Kristus melalui Gereja Katolik benar-benar merupakan rahmat dan anugerah semata. Pengenalanku akan Kristus, pertama-tama hanyalah melalui penglihatan dan lagu-lagu sekolah minggu di dekat rumahku dulu sewaktu di Bandung. Di jalan Suryani, ada sebuah gereja, mungkin gereja pantekosta, aku tidak yakin. Tetapi seingatku sewaktu melewati gereja itu, aku mendengar anak-anak kecil menyanyi dengan meriah. Dan aku tidak tahu mengapa aku tertarik untuk mengintipnya dari pagar gereja. Aku hanya merasa nyanyiannya enak, dan aku dengan mudah mengingatnya.
Haleluya ... haleluya .... haleluya ... haleluya ..... Puji Tuhan (2x)
Puji Tuhan ..... Haleluya
Puji Tuhan ..... Haleluya
Puji Tuhan ..... Hale...lu...ya
Puji Tuhan
Setelah itu keluargaku pindah, ke tempat lain. Beberapa kali. Karena kami hanya mampu untuk kontrak rumah. Sampai akhirnya suatu ketika selesai SD, aku ingin masuk sekolah terbaik di Bandung. Waktu itu pikiranku yang terbatas memilih sekolah katolik Aloysius, namun ... aku ditolak. Ditolak tanpa tes, ditolak karena aku tampil ke Aloysius dengan tak bersepatu dan tak menggunakan baju yang bagus (ini sih pikiranku semata lo, bisa jadi ada alasan lain), yang menyakitkan, teman baikku yang nilainya kalah dari aku malah diterima.
Secara unik aku akhirnya masuk ke SMP kristen BPK II di Suryani. Disana aku diterima dan berkembang menjadi siswa terbaik. Di SMP ini pula aku pertama kali berkenalan dengan agama Kristen, karena kami semua mendapat mata pelajaran agama Kristen. Di tempat inilah pertama kali aku diajarkan menghapal ayat-ayat Alkitab yang menjadi ayat-ayat mas yang masih kuingat hingga saat ini, tentu saja versi terjemahan waktu itu. Misalnya Yoh 3 : 16
" Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga
dikaruniakan-Nya , Anak-Nya yang tunggal itu, supaya
barangsiapa percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal."
Atau Wahyu 3:20
" Tengoklah Aku berdiri di muka pintu sambil mengetuk, supaya barangsiapa mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, maka Aku akan masuk kepadanya, dan makan bersamanya, dia dengan Aku."
Kalau ayat-ayat itu dibaca dengan bahasa sekarang tentu saja ada perubahan (tetapi isinya sih aku jamin sama saja maknanya). Aku membaca dan menghapal ayat-ayat itu karena pelajaran, dan bukan karena percaya , apalagi beriman.
Namun sebagaimana kita tahu, bahwa sabda Tuhan tidak ada yang sia-sia, ternyata sperti benih, DIA itu tumbuh. Kenapa karena aku sering menghapalkannya dengan mengucapkannya keras-keras dan menuliskannya berulang-ulang di kertas. Karena itulah metode belajarku di SMP.
Yang tidak kulupakan, aku jadi perhatian guru agamaku, aku masih ingat, namanya ibu Lily, orangnya kecil, putih, dia baik sekali kepadaku. Malahan suatu ketika aku pernah diajaknya pergi ke sebuah tempat di Ledeng, Bandung Utara, lewat IKIP Bandung, untuk pergi ke sebuah taman yang menjual Ice Cream. Aku dibelikannya Ice Cream, ditemaninya, bersama seorang temannya. (Aku belakangan tersadar, itulah cara mengasihi yang diajarkan gerejanya, GKI). Jujur, di situlah aku pertama kali menerima pelayanan seorang Kristen. Seingatku, dia tidak mengajak aku untuk masuk Kristen, dia hanya mempraktekkan kasih.
Dan begonya, aku selama itu tak menyadarinya. Aku tetap belajar dan dapat nilai baik dalam pelajaran agama Kristen. Disekolah terkadang ada kebaktian, aku ikut karena itu acara yang diselenggarakan sekolah. Aku sama sekali tidak tersentuh soal keimanan.
Yang kuingat ada sebuah kejadian istimewa dalam hidupku di masa SMP itu. Suatu malam aku merasakan perutku sangat sakit, dan aku terpaksa harus ke wc. Biasanya kalau ke wc aku ditemani kakakku, namun hari itu, kakakku sedang tidak ada, dan hanya ada ibu yang sedang sibuk menjahit. Jadi aku terpaksa pergi sendirian ke wc, yang letaknya diluar rumah dan harus melewati lorong gelap samping rumah. Dan aku yang penakut, sungguh-sungguh ketakutan. Dan ... anehnya, tiba-tiba aku teringat sebuah ayat hapalan dari Yakobus 4:7 .... serahkanlah dirimu kepada ALLAH dan lawanlah iblis, maka kelak iblis itu akan lari daripadamu... aku komat-kamit mengulangi ayat itu berulang-ulang, seperti mengulangi mantera. Dan tanpa aku sadari, aku membayangkan Tuhan melindungi aku. Singkatnya rasa takutku akan setan dan kegelapan sedikit-demi sedikit menjadi hilang. Bahkan akhirnya pulang malam lewat kuburan pun, aku berani.
Yang mendorongku menjadi katolik adalah hal lain yang unik, karena secara logika mestinya, aku menjadi seorang Kristen Protestan, aku kenal Yesus melalui sekolah BPK, juga ingat ayat-ayat itu melalui jasa guru agamaku yang di SMPK BPK II. Khotbahnya cukup bagus-bagus, cuma saat aku memilih agama, karena untuk mengisi keterangan dalam ijasah dan raport, aku serius mau mencari dan masuk agama yang 'baik' dalam pengertianku waktu itu. Aku terpesona akan sebuah pribadi waktu itu, Ibu Teresa dari Calcuta, aku benar-benar tersentuh karena dia rela bersusah-susah memberikan perhatian dan kasihnya pada orang buangan, tanpa sekalipun mengajak orang yang dibantunya untuk diajak masuk katolik, dan seingatku, dia tidak mewartakan Yesus melalui khotbah-khotbah. Tapi dia dikenal melalui perbuatan baiknya. Sederhananya aku jadi berpikir, siapa yang membuatnya jadi seperti itu? Apa alasannya? ... diusut-usut ternyata katolik. Maka aku mencari sebuah gereja, gereja katolik Waringin Bandung, St. Mikhael, bimbingan Pastoor van Dongen. Ikut Katekismus selama setahun penuh, di sana aku belajar serius dan banyak bertanya, maklum aku sekolah di BPK yang protestan, aku tidak bisa menerima Maria. Waktu selesai masa katekisasi, aku diumumkan bisa di baptis. Cuma aku bilang sama Pastoor, " Pastoor, saya kan gak percaya sama Maria, saya cuma percaya Yesus. Apa tidak salah, saya di baptis?"
Pastoor van Dongen, SS.CC, menepuk bahuku dengan mantap," Kamu sudah lulus katekismus, dan gereja membaptis engkau dalam nama Bapa Putera dan Roh Kudus. Soal Bunda Maria, suatu ketika ia akan berbicara sendiri padamu..."
Jadilah aku seorang katolik, yang di baptis tetapi belum percaya Bunda Maria. Omongan Pastoor itu kelak terjadi, setelah aku menyelesaikan pendidikan tinggi, bekerja dan di novisiat sebuah serikat aku diperkenalkan dengan yang namanya, devosi pada Bunda Maria (Kisah tersendiri yang akan aku tulis suatu waktu).
Waaah bagus pak kisahnya. Knp tidak di bukukan saja. BTW apakah kisah Bunda Maria sudah di tulis di blog ini ?
BalasHapus